INFOPUBLIK.CO – Di tengah tensi yang belum sepenuhnya mereda di perbatasan, Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan komitmen kelompoknya untuk terus melanjutkan perlawanan bersenjata terhadap Israel. Pernyataan keras ini disampaikan dalam pidato yang disiarkan oleh televisi al-Manar pada Selasa (10/02), sebagai respons atas dinamika keamanan di kawasan tersebut.

Qassem menekankan bahwa keberadaan Hizbullah saat ini adalah untuk mencegah ambisi Israel dalam memperkuat cengkeraman kekuasaan dan pengamanan sepihak di wilayah perbatasan. Ia menyebut Israel sebagai “entitas kanker” yang harus dihadapi secara langsung untuk menjaga kedaulatan Lebanon.

Baca Juga :  Tragedi di Tengah Kota: Pria Berinisial TD Lompat dari Lantai 4 Parkiran Mall di Tangerang

Kritik Tajam Terhadap Barat
Dalam pidato peringatan tersebut, Qassem tidak hanya menyasar Israel, tetapi juga melontarkan kritik pedas kepada Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Ia menuding kekuatan Barat berupaya melegitimasi pendudukan serta perampasan hak-hak rakyat Palestina melalui berbagai kebijakan internasional.

Baca Juga :  Pasukan Israel Persempit "Zona Kemanusiaan Aman" di Gaza Menjadi Puing-Puing

“Hizbullah telah bertahan menghadapi tantangan ini selama 42 tahun. Kami konsisten dalam upaya membebaskan wilayah dan menahan dominasi,” ujar Qassem. Ia menambahkan bahwa kekuatan serta masa depan Lebanon sangat bergantung pada gerakan perlawanan sebagai pilar yang berjalan berdampingan dengan otoritas negara.

Komitmen di Tengah Gencatan Senjata yang Rapuh
Meski kesepakatan gencatan senjata secara resmi telah berlaku sejak 27 November 2024, situasi di lapangan tetap cair. Israel dilaporkan masih melakukan serangkaian serangan ke wilayah Lebanon dengan dalih menetralisir ancaman.

Baca Juga :  CEO Telegram Pavel Durov Dibawah Penyelidikan di Perancis, Dikenai Jaminan €5 Juta

Menanggapi hal tersebut, Hizbullah menegaskan bahwa mereka tetap dalam posisi siaga tempur. Pernyataan Qassem ini sekaligus menjadi sinyal bahwa kelompok tersebut tidak akan melucuti kekuatan militernya selama ancaman dari lintas perbatasan masih dirasakan nyata.

Sumber : Xinhua