INFOPUBLIK.CO– Dukungan terhadap kemerdekaan Palestina semakin menguat di dunia internasional. Hingga kini, sebanyak 147 negara dari total 193 anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyatakan pengakuan resmi terhadap kedaulatan Negara Palestina.

Perkembangan terbaru datang dari Inggris, yang bergabung dengan Tiongkok, Rusia, dan Prancis sebagai negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang telah mendukung kemerdekaan Palestina. Dengan demikian, dari lima negara pemilik hak veto PBB, hanya Amerika Serikat yang masih konsisten menolak memberikan pengakuan.

Baca Juga :  Trump Siap Luncurkan Balasan “20 Kali Lipat” Jika Iran Berani Blokir Selat Hormuz!

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyampaikan pernyataannya melalui platform media sosial X. Ia menegaskan bahwa langkah Inggris merupakan bentuk dukungan bagi perdamaian di kawasan Timur Tengah.

“Hari ini kami mengakui Negara Palestina untuk menghidupkan kembali harapan perdamaian antara Palestina dan Israel,” tegas Starmer.

Langkah Inggris ini dinilai menjadi terobosan diplomatik yang penting, mengingat sebelumnya Inggris kerap mengikuti sikap Amerika Serikat dalam isu-isu strategis. Keputusan tersebut diyakini akan memperkuat posisi Palestina dalam diplomasi global, serta menambah tekanan terhadap Amerika Serikat yang masih menolak memberikan pengakuan.

Baca Juga :  Pejabat Kementerian Luar Negeri Inggris Mundur sebagai Aksi Protes Terhadap Penjualan Senjata ke Israel

Selain itu, pengakuan dari empat anggota tetap Dewan Keamanan PBB memberi bobot politik yang signifikan terhadap Palestina. Dukungan mayoritas negara anggota PBB disebut dapat membuka ruang baru bagi dimulainya kembali proses perdamaian yang selama ini mandek akibat konflik berkepanjangan dengan Israel.

Baca Juga :  Alfamart Buka Jalan Baru Ekspansi Ritel Indonesia ke Dunia: Lebih dari 2.400 Gerai di Filipina, Kini Siap Menyapa Bangladesh dan Malaysia!

Masyarakat internasional menilai, dengan semakin luasnya pengakuan, perjuangan Palestina menuju keanggotaan penuh PBB kian menemukan momentum. Meski demikian, sikap Amerika Serikat yang masih bertahan menolak menjadi tantangan besar, mengingat posisi vital negara tersebut dalam setiap pengambilan keputusan di Dewan Keamanan PBB.(els)