INFOPUBLIK.CO – Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, resmi membubarkan Majelis Rendah parlemen (DPR) pada Jumat (23/1). Langkah berani ini membuka jalan bagi penyelenggaraan pemilihan umum dini (snap election) yang dijadwalkan pada 8 Februari 2026.

Keputusan ini menciptakan catatan sejarah baru bagi Jepang. Dengan kampanye resmi yang baru dimulai pada Selasa (27/1), para kandidat hanya memiliki waktu 16 hari untuk berebut suara—masa kampanye terpendek dalam sejarah politik Jepang pascaperang.

Strategi Politik PM Takaichi

Pembubaran ini dilakukan hanya tiga bulan setelah PM Takaichi menjabat sebagai pemimpin perempuan pertama Jepang pada Oktober lalu. Ia bermaksud memanfaatkan tingkat persetujuan publik (approval rating) terhadap kabinetnya yang saat ini sedang berada di titik tinggi.

“Saya ingin masyarakat Jepang memberikan keputusan secara langsung, apakah mereka mempercayakan pengelolaan negara ini kepada kepemimpinan saya dan koalisi baru yang kita bangun,” ujar PM Takaichi dalam konferensi persnya.

Langkah ini juga dipandang sebagai upaya untuk memperkuat posisi koalisi antara Partai Demokrat Liberal (LDP) dan Partai Inovasi Jepang (JIP), yang saat ini hanya memegang mayoritas tipis di DPR.

Baca Juga :  China Mengguncang Dominasi AS dalam Teknologi AI dengan Inovasi DeepSeek

Kritik Oposisi: “Politik di Atas Rakyat”

Keputusan PM Takaichi tidak luput dari kecaman keras partai-partai oposisi. Mereka menuding pembubaran parlemen di awal masa sidang reguler adalah taktik untuk menghindari pengawasan ketat terhadap kebijakan pemerintah.

Baca Juga :  Sembilan Siswa Mengundurkan Diri dari Sekolah Rakyat di Tangsel, Ini Penjelasan Pihak Sekolah

Kritik utama tertuju pada prioritas pemerintah yang dinilai lebih mendahulukan pemilu ketimbang pengesahan anggaran awal untuk tahun fiskal 2026 yang dimulai April mendatang. Waktu penilaian yang sangat terbatas bagi pemilih dianggap dapat mencederai kualitas demokrasi.

Munculnya Kekuatan Baru: Aliansi Reformasi Sentris

Pemilu kali ini akan menjadi ujian berat bagi blok konservatif penguasa. Pada 22 Januari, sebuah kekuatan baru muncul melalui Aliansi Reformasi Sentris.

Baca Juga :  Larangan Operasional UNRWA oleh Israel Picu Kekhawatiran Penghapusan Hak Kembali Pengungsi Palestina

Aliansi yang merupakan gabungan dari Partai Demokrat Konstitusional Jepang dan Partai Komeito ini kini memiliki 165 anggota parlemen di majelis rendah. Mereka memposisikan diri sebagai penantang utama yang siap merebut kursi dari koalisi pimpinan LDP.

Timeline Utama Pemilu Jepang 2026:

  • 23 Januari: Pembubaran resmi Majelis Rendah.
  • 27 Januari: Dimulainya kampanye resmi secara nasional.
  • 8 Februari: Hari pemungutan suara nasional.