INFOPUBLIK.CO – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menegaskan bahwa peran jurnalisme profesional menjadi semakin krusial di tengah masifnya konten berbasis kecerdasan artifisial (AI). Dalam era di mana rekayasa digital semakin sulit dibedakan dari realitas, jurnalisme yang berintegritas adalah benteng terakhir kepercayaan publik.
Hal tersebut disampaikan Nezar dalam Forum Kolaborasi Dewan Pers dan Google News Initiative yang berlangsung di Serang, Banten, Minggu (8/2). Ia menyoroti tantangan besar bagi masyarakat yang kini rentan terkecoh oleh foto, video, dan teks sintetis hasil rekayasa AI yang beredar luas di media sosial.
“Konten sintetis hari ini sangat mirip dengan aslinya. Bahkan orang yang terlatih pun bisa keliru. Di situ publik membutuhkan jurnalisme yang bekerja dengan disiplin verifikasi,” ujar Nezar dalam keterangan resmi Kementerian Komunikasi dan Digital.
Krisis Kepercayaan di Era Kelimpahan Informasi
Menurut Nezar, tantangan utama saat ini bukan lagi kelangkaan informasi, melainkan krisis kepercayaan. Algoritma media sosial cenderung menciptakan realitas yang terfragmentasi berdasarkan preferensi individu, bukan gambaran peristiwa yang utuh.
“Informasi hari ini melimpah, yang justru langka adalah kepercayaan. Kepercayaan itu hanya bisa dijaga oleh jurnalisme yang berintegritas,” tegasnya.
AI Sebagai Alat, Bukan Pengambil Keputusan
Lebih lanjut, Nezar menjelaskan bahwa teknologi AI tidak memiliki insting verifikasi secara mandiri. Tanpa kendali manusia, AI tidak mampu membedakan informasi autentik dari sekadar simulasi. Ia menekankan bahwa dalam industri media, AI harus diposisikan sebagai alat bantu produksi, sementara keputusan editorial tetap berada di tangan manusia.
“AI tidak akan melakukan verifikasi kalau tidak diminta. Disiplin verifikasi inilah yang membedakan jurnalisme profesional dengan konten otomatis,” tambah Nezar.
Membangun Ekosistem Media yang Sehat
Pemerintah menyatakan dukungan penuh terhadap pembangunan ekosistem media massa yang sehat, yang melibatkan sinergi antara jurnalis, industri media, dan platform digital. Nezar meyakini bahwa jurnalisme berkualitas tidak hanya melayani kepentingan publik, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan.
“Jurnalisme adalah layanan publik. Di tengah dominasi algoritma dan AI, keberpihakan pada kebenaran dan hak warga tidak boleh hilang,” tutupnya.(els)


Tinggalkan Balasan