INFOPUBLIK.CO – Di tengah tensi yang belum sepenuhnya mereda di perbatasan, Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan komitmen kelompoknya untuk terus melanjutkan perlawanan bersenjata terhadap Israel. Pernyataan keras ini disampaikan dalam pidato yang disiarkan oleh televisi al-Manar pada Selasa (10/02), sebagai respons atas dinamika keamanan di kawasan tersebut.

Qassem menekankan bahwa keberadaan Hizbullah saat ini adalah untuk mencegah ambisi Israel dalam memperkuat cengkeraman kekuasaan dan pengamanan sepihak di wilayah perbatasan. Ia menyebut Israel sebagai “entitas kanker” yang harus dihadapi secara langsung untuk menjaga kedaulatan Lebanon.

Baca Juga :  Presiden Joko Widodo Terima Penghargaan Order of Zayed dari Presiden Abu Dhabi

Kritik Tajam Terhadap Barat
Dalam pidato peringatan tersebut, Qassem tidak hanya menyasar Israel, tetapi juga melontarkan kritik pedas kepada Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Ia menuding kekuatan Barat berupaya melegitimasi pendudukan serta perampasan hak-hak rakyat Palestina melalui berbagai kebijakan internasional.

Baca Juga :  OJK Siap Tingkatkan Minimum Free Float Hingga 30% demi Keseimbangan Pasar Modal Indonesia

“Hizbullah telah bertahan menghadapi tantangan ini selama 42 tahun. Kami konsisten dalam upaya membebaskan wilayah dan menahan dominasi,” ujar Qassem. Ia menambahkan bahwa kekuatan serta masa depan Lebanon sangat bergantung pada gerakan perlawanan sebagai pilar yang berjalan berdampingan dengan otoritas negara.

Komitmen di Tengah Gencatan Senjata yang Rapuh
Meski kesepakatan gencatan senjata secara resmi telah berlaku sejak 27 November 2024, situasi di lapangan tetap cair. Israel dilaporkan masih melakukan serangkaian serangan ke wilayah Lebanon dengan dalih menetralisir ancaman.

Baca Juga :  Kabar Gembira! Pemerintah Guyur Rp11,92 Triliun Bantuan Pangan dan Diskon Tiket Besar-besaran Jelang Lebaran 2026

Menanggapi hal tersebut, Hizbullah menegaskan bahwa mereka tetap dalam posisi siaga tempur. Pernyataan Qassem ini sekaligus menjadi sinyal bahwa kelompok tersebut tidak akan melucuti kekuatan militernya selama ancaman dari lintas perbatasan masih dirasakan nyata.

Sumber : Xinhua