INFOPUBLIK.CO – Kondisi infrastruktur di Kabupaten Lebak kembali memicu polemik. Jalan Raya Rangkasbitung–Cipanas Kilometer 7, tepat di depan gedung Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP), kini menjadi sorotan tajam setelah kerusakan parah kembali muncul di titik yang sama, meski baru saja selesai diperbaiki kurang dari satu bulan yang lalu.

Kegagalan perbaikan jalan nasional ini memicu reaksi keras dari Keluarga Mahasiswa Lebak (Kumala) Perwakilan Rangkasbitung. Mereka menilai proyek perbaikan tersebut terkesan asal-asalan dan hanya menghambur-hamburkan anggaran negara.

“Setiap diperbaiki, tidak lama kemudian rusak lagi. Saya sebagai bagian dari keluarga mahasiswa Lebak merasa bosan melihat kondisi Jalan Rangkasbitung–Cipanas Km 7 yang seperti itu terus,” ujar Bendahara Kumala PW Rangkasbitung, Afrizal, saat dihubungi pada Minggu (5/4/2026).

Baca Juga :  Reformasi Besar PPDB 2024: SKTM Ditiadakan, Kartu Keluarga Wajib Berbarcode untuk Zonasi!

Metode Perbaikan Dipertanyakan: “Uang Rakyat Terbuang Sia-sia”
Afrizal menegaskan bahwa pola kerusakan yang berulang di titik yang sama menimbulkan tanda tanya besar mengenai kualitas material dan metode konstruksi yang digunakan oleh pihak kontraktor atau dinas terkait. Ia menilai anggaran yang bersumber dari pajak masyarakat tidak memberikan manfaat jangka panjang.

Baca Juga :  Kontroversi Retribusi Stadion Benteng, Kadispora Tangerang Menghadapi Tudingan Korupsi

“Ini terkesan sia-sia. Uang rakyat dipakai untuk memperbaiki jalan, tapi hasilnya tidak bertahan lama. Aneh juga, rusaknya selalu di titik yang sama. Metode apa yang digunakan selama ini?” tegasnya dengan nada kecewa.

Desakan Betonisasi: Solusi Permanen, Bukan Tambal Sulam
Melihat kondisi tanah atau beban kendaraan yang diduga menjadi penyebab utama, Kumala mendesak pemerintah untuk berhenti menggunakan skema “tambal sulam” aspal yang terbukti gagal. Mereka mendorong adanya pengalihan konstruksi ke sistem beton (rigit pavement) agar lebih tahan lama.

Baca Juga :  Pentingnya Transparansi: Desa-Desa di Legok Pampang Laporan IPPD Tahun Anggaran 2024

“Kalau memang titik itu sering rusak, kenapa tidak dibuat konstruksi beton saja supaya lebih kuat? Masyarakat butuh tindakan nyata, bukan perbaikan berulang tanpa hasil yang jelas,” tambah Afrizal.

Mahasiswa mengancam akan terus mengawal persoalan ini hingga pihak terkait memberikan penjelasan transparan mengenai evaluasi proyek di KM 7 tersebut. Hingga berita ini diturunkan, warga dan pengguna jalan diimbau ekstra waspada saat melintasi jalur tersebut, terutama saat hujan karena lubang jalan yang dalam dapat membahayakan keselamatan.